Jakarta - Menjelang datangnya bulan Ramadan, Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas menyampaikan pesan reflektif tentang makna ibadah dan tanggung jawab dalam jabatan. Momentum spiritual ini dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat integritas, memperdalam pengabdian, serta menata kembali niat dalam menjalankan amanah.
“Jabatan itu memberi kita kewenangan, pasti!. Tapi ada batas akhirnya. Sehingga selalu saya menyatakan, jabatan itu sementara. Setelah kita meninggalkannya, yang abadi adalah cerita-cerita selama kita menjabat,” kata Supratman saat hadir dalam kegiatan Munggahan dan Silaturahmi Pegawai Menyambut Bulan Ramadan Tahun 1447H/2026M.
“Bagaimana kita memperlakukan bawahan (staf), bagaimana kita menghargai sesama rekan kerja, itulah yang akan terus dikenang,” tambahnya di Graha Pengayoman Kementerian Hukum (Kemenkum), Kamis (12/02/2026).
Menkum mengajak seluruh pegawai Kemenkum yang beragama Islam untuk menyambut Ramadan sebagai bulan penuh berkah, dengan memperbanyak ikhtiar dan memberi kebaikan bagi sesama. Ramadan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan, integritas, dan keteladanan yang meninggalkan jejak kebaikan jangka panjang.
Sementara itu, Ahmad Sarwat yang hadir sebagai penceramah dalam kegiatan yang sama mengatakan Ramadan di Indonesia itu sudah bukan “milik” umat Islam semata.
“Ramadan itu sudah milik saudara-saudara kita juga, milik bareng-bareng. Itulah hebatnya kita orang Islam di Indonesia, Ramadan-nya itu menjadi berkah bukan hanya buat orang Islam, tapi juga yang bukan Islam. Alhamdulillah ya berkahnya,” kata mubalig kelahiran Kairo, Mesir ini.
Ramadan, lanjut Ketua Umum Daarul-Uluum Al-Islamiyah (DU Center), pada masa Rasulullah SAW tidak semata dimaknai sebagai waktu untuk berdiam diri di masjid. Memang pada tahun terakhir kehidupannya, Nabi Muhammad SAW memperbanyak iktikaf hingga sepuluh hari terakhir. Namun, tidak setiap tahun beliau menjalankan pola yang sama.
“Nabi SAW itu mencontohkan juga, bulan Ramadan ada juga beliau itu perang. Perang Badar itu di bulan Ramadan. Perang-perang nabi berikutnya tuh Ramadan. Bahkan Fathu Mekkah, dibebaskan kota Makkah, itu kejadiannya bulan Ramadan,” kata Ahmad.
“Jadi jangan dikira nabi dan para sahabat kalau Ramadan itu berdiam masjid aja. Beliau dan para sahabat itu beraktivitas. Justru pencapaian-pencapaian terbaiknya, prestasi-prestasi terbaiknya, adanya di bulan Ramadan. Termasuk kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 itu bulan Ramadan hari Jumat jam 10.00 pagi,” terangnya.
Salah satu keistimewaan Ramadan adalah salat tarawih yang hanya ada di bulan ini. Ibadah lain seperti tahajud, witir, puasa sunnah, dan membaca Al-Qur’an bisa dilakukan di luar Ramadan, tetapi tarawih tidak.
“Maka jangan sampai ada Ramadan datang, tapi tarawih kita banyak bolongnya. Nggak dosa sih, tapi rugi aja. Makanya upayakan kalau bisa tarawih itu jangan sampai terlewat. Bersyukur bisa (salat tarawih) di masjid, bersyukur bisa berjamaah, itu cakep,” tandasnya.
